Hilirisasi: Jangan Sampai Indonesia Terjebak masuk ke “Penjajahan Ekonomi”

Written by

in

Hilirisasi: Jangan Sampai Rakyat Kita Hanya Menjadi Pasar bagi Industri Negara Lain -> “Penjajahan Ekonomi”

Ada sebuah kekhawatiran yang menurut saya layak kita renungkan dalam pembicaraan tentang industrialisasi Indonesia.

Mungkinkah sebuah bangsa secara politik sudah merdeka, tetapi secara ekonomi justru membangun pola yang membuat rakyatnya memperoleh penghasilan di dalam negeri, lalu penghasilan tersebut kembali mengalir kepada industri negara lain melalui pembelian barang?

Seolah seperti di film MATRIX. Manusia digantung dan diinfus makanan, namun darahnya di sedot untuk menghasilkan energy.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa Indonesia sedang “dijajah” dalam pengertian kolonial seperti masa lalu. Tetapi saya menggunakan kekhawatiran itu sebagai alarm.

Karena ketergantungan ekonomi modern tidak harus berbentuk pendudukan wilayah. Ia dapat berbentuk ketergantungan terhadap kemampuan produksi pihak lain.

Kita mempunyai pasar.
Kita mempunyai tenaga kerja.
Kita mempunyai sumber daya alam.
Kita mempunyai konsumen.

Tetapi kalau kemampuan untuk menghasilkan barang, komponen, mesin, material, teknologi dan engineering-nya berada di luar negeri, maka sebagian nilai ekonomi yang tercipta dari pasar kita tetap dapat mengalir keluar.

Dan di sinilah saya melihat hakekat persoalan hilirisasi Indonesia.

Bukan Sekadar Membuat Barang di Indonesia

Hilirisasi selama ini banyak dibicarakan melalui nikel, smelter, baterai, kendaraan listrik dan berbagai produk turunannya.

Tetapi pertanyaannya perlu dinaikkan satu tingkat:

Ketika sebuah produk dibuat di Indonesia, apakah kemampuan industri yang menopangnya juga tumbuh di Indonesia?

Sebuah produk dapat mempunyai label Made in Indonesia, sementara:

komponennya berasal dari luar,
material tertentu berasal dari luar,
tooling dibuat di luar,
mesinnya berasal dari luar,
engineering berasal dari luar,
technology know-how berada di luar,
bahkan maintenance capability tertentu masih bergantung pada luar.
Secara lokasi, produknya Indonesia. Tetapi secara industrial capability, belum tentu.

Karena itu kita perlu membedakan: lokalisasi produk dengan pendalaman industri.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *