Komunitas Bonsai Sukaluyu, Menjaga Hobi dan Menggerakkan Ekonomi

Written by

in

Di tengah kesibukan warga Desa Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Komunitas Bonsai tumbuh menjadi lebih dari sekadar hiasan. Bagi Komunitas Kebun Bonsai Sukaluyu Cianjur (KBSC), merawat pohon dalam pot menjadi kegiatan positif yang sekaligus membuka peluang ekonomi.

Rahman, bendahara sekaligus sekretaris komunitas KBSC, mengatakan komunitas tersebut terbentuk dari keinginan menghadirkan kegiatan positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Ia melihat banyak anak muda di lingkungan sekitar yang belum memiliki aktivitas produktif.

“Awalnya saya lihat di kampung sini banyak anak muda yang istilahnya leha-leha. Kita coba membuka suatu kegiatan yang positif, contohnya seperti sekarang, mencintai bonsai,” ujar Rahman saat ditemui pada 6 Agustus 2026.

Komunitas yang telah berjalan hampir empat tahun itu kini memiliki sekitar 18 hingga 20 anggota aktif. Sebagian besar anggotanya berusia 25 tahun ke atas, meskipun masih terdapat beberapa penghobi yang berstatus pelajar.

Bagi Rahman, ketertarikannya terhadap bonsai tidak hanya didasari oleh hobi. Tanaman tersebut juga memberikan peluang untuk membantu perputaran ekonomi melalui penjualan bonsai.

“Satu hobi, kedua ekonomi. Itu yang jelas. Sedikit-sedikit Alhamdulillah kita bisa berputar ekonomi melalui penjualan bonsai,” katanya.

Perjalanan sebuah bonsai hingga memiliki nilai jual membutuhkan ketelatenan. Perawatan dimulai dari pemilihan media tanam, pemberian pupuk, hingga memastikan kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi. Lama perawatan pun berbeda-beda bergantung pada jenis pohonnya.

Rahman menyebut bonsai dengan ukuran tertentu dapat membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk mencapai bentuk yang layak dipasarkan. Sementara beberapa jenis lainnya dapat memerlukan waktu hingga lima tahun atau lebih.

KBSC juga mengikuti berbagai pameran dan kontes bonsai. Rahman yang kerap terlibat sebagai panitia dalam kegiatan tersebut turut merasakan pengalaman ketika tanaman yang dirawat berhasil meraih juara dan menarik perhatian kolektor.

Ia menceritakan, sebuah bonsai yang awalnya dibeli sebagai bahan seharga sekitar Rp200 ribu dapat mengalami peningkatan nilai setelah melalui proses perawatan dan berhasil memenangkan kontes. Bahkan, tanaman tersebut pernah ditawar hingga hampir sepuluh kali lipat dari harga awal, bahkan lebih.

Selama hampir empat tahun berjalan, ratusan bonsai dengan berbagai ukuran dan jenis telah terjual. Harganya beragam, mulai dari tanaman yang masih berupa bahan hingga bonsai yang telah melalui proses pembentukan. Untuk tanaman tertentu, Rahman menyebut harga jualnya dapat mencapai jutaan rupiah.

“Kalau untuk saya pribadi, baru dua juta satu pohon. Tapi kalau kalkulasi beberapa pohon, biasanya orang jarang beli satu. Kebanyakan beli sepuluh atau dua puluh,” ujarnya.

Meski memberikan keuntungan, menjual bonsai yang telah dirawat bukan perkara mudah bagi para penggiatnya. Ada kalanya tanaman yang sudah lama dirawat harus dilepas karena kebutuhan ekonomi.

“Tantangan utamanya yaitu bonsai yang lagi kita sayangi terpaksa kita jual. Kita kembali lagi kepada ekonomi. Kalau ekonomi lagi seret, terpaksalah kita jual,”

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *