Anak Jepang Naik KRL Sendiri, Kenapa Kita Malah Hobi ‘Overprotective’?

Written by

in

Di Tokyo, melihat Anak Jepang umur enam tahun berseragam sekolah dengan tas pikul besar menyusuri trotoar, menyeberang jalan, hingga naik kereta komuter sendirian tanpa didampingi orang tua adalah pemandangan harian yang lazim. Tak ada raut panik di wajah orang tua mereka, tak ada juga bayang-bayang helikopter parenting yang sibuk membuntuti dari jarak lima meter.

Bandingkan dengan pemandangan di gerbang sekolah dasar kita di Indonesia. Mobil dan motor penjemput mengular sampai bikin macet satu RT. Anak kelas lima SD yang tasnya diusung sang nenek, atau balita yang jangankan menyeberang jalan, jalan kaki sepuluh meter dari gerbang rumah saja sudah diteriaki “Awas jatuh!” atau “Awas diculik!” oleh ibunya.

Melihat kontras ini, reaksi spontan sebagian orang tua urban kita biasanya cuma dua: kalau tidak kagum setengah mati lalu meratapi betapa “manjanya” anak-anak lokal, ya langsung bertekad meniru mentah-mentah style ala Negeri Sakura itu. Tapi, tunggu dulu. Apakah benar masalahnya cuma terletak pada “keberanian” orang tua?

Fenomena menarik ini sempat disinggung oleh Anies Baswedan saat mengulas buku Parenting Without Borders karya Christine Gross-Loh. Gross-Loh seorang jurnalis bergelar PhD dari Harvard yang membesarkan empat anaknya di AS dan Jepang membuka mata kita bahwa cara mengasuh anak yang kita anggap “paling benar” selama ini sebenarnya tidak lebih dari produk bias budaya.

Orang tua di Amerika Serikat, misalnya, sangat terobsesi memberikan pujian demi melangitkan self-esteem sang anak. Di Jepang, konsep pujian berlebihan itu justru absen. Mereka lebih fokus menanamkan kerja keras, kedisiplinan, dan kontribusi pada komunitas. Anak usia dini di Jepang diajari bahwa menjaga ketertiban umum dan mandiri adalah bentuk rasa hormat pada lingkungan sosialnya.

Namun, sebelum kita buru-buru menyuruh anak kelas 1 SD di kompleks rumah kita naik angkot sendirian ke sekolah, ada satu fakta keras yang perlu kita elus dada bersama: sistem ekologis kita tidak sama.

Anak Jepang bisa dilepas naik kereta bukan semata-mata karena orang tua mereka berhati baja atau tega. Mereka didukung oleh infrastruktur publik yang ramah anak, tingkat kejahatan jalanan yang sangat rendah, trotoar lebar yang manusiawi, serta norma masyarakat yang kolektif. Di sana, seluruh mata warga di jalanan secara tak tertulis menjadi “pengawas” dan jaring pengaman bagi anak-anak tersebut.

Lantas bagaimana dengan kita? Trotoar di sini kalau tidak bolong ya diokupasi lapak kaki lima atau pengendara motor yang tak sabaran. Belum lagi bicara soal akses transportasi publik yang belum merata dan angka kriminalitas jalanan. Dalam konteks Indonesia, kewaspadaan ekstra orang tua yang sering dicap overprotective itu bukan selalu bentuk keposesifan yang irasional, melainkan respons alami terhadap lingkungan yang memang belum ideal.

Di sinilah poin krusialnya: Adopsi itu gegabah, Adaptasi itu berdaya.

Mengadopsi gaya parenting luar negeri secara mentah-mentah (copy-paste) tanpa menimbang konteks lokal adalah keputusan yang naif. Kita tidak perlu memaksa anak kita naik KRL sendirian di usia enam tahun hanya demi terlihat “seperti orang tua Jepang”. Nilai utama dari pengasuhan Jepang yang patut kita pelajari bukanlah teknis “naik keretanya”, melainkan filosofi di baliknya: kepercayaan dan rasa tanggung jawab.

Kita bisa memodifikasi kemandirian itu sesuai dengan skala lokal Indonesia. Membiarkan anak menyiapkan jadwal bukunya sendiri, mengajari mereka membereskan piring usai makan, melatih mereka belanja di warung tetangga dekat rumah, atau memberikan mereka ruang untuk menyelesaikan masalah kecilnya tanpa langsung kita ambil alih.

Apalagi, Indonesia sebenarnya punya modal sosial yang tak kalah luar biasa: tradisi gotong royong dan kehangatan komunitas. Membesarkan anak di Indonesia tak pernah menjadi kerja tunggal orang tua semata (it takes a village to raise a child). Ada peran kakek-nenek, tetangga yang saling menjaga, hingga lingkungan RT yang guyub sebuah kekayaan kultur pengasuhan yang kini malah dicari-cari oleh masyarakat Barat yang makin individualis.

Pada akhirnya, tak ada satu pun pola pengasuhan di dunia ini yang paling unggul atau memegang kunci kebenaran tunggal. Belajar dari Jepang, Swedia, atau Finlandia bukan untuk membuat kita merasa kerdil atau minder sebagai orang tua Indonesia. Praktik-praktik dunia itu hadir sebagai cermin untuk membuat kita kembali berefleksi: apakah yang kita lakukan ke anak selama ini memang demi kebaikan mereka, atau sekadar meneruskan kebiasaan lama tanpa pernah tahu alasannya?

Mendidik anak tidak butuh paspor atau label serba-impor. Yang dibutuhkan adalah orang tua yang mau berpikir reflektif, bijak membaca konteks tempat anak tumbuh, dan tahu kapan harus menggenggam erat serta kapan saatnya perlahan melepaskan pegangan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *